Oleh: Al-Ustazd Restu Aulia, S.Pd.I

PENDIDIKAN Merupakan polemik manahun yang menjadi akar masalah yang berakibat pada kemunduran bangsa Indonesia. Tercatat dalam sejarah pendidikan Indonesia yang sempat membanggakan kita, pada awal kemerdekaan Negara RI, meski dirundung berbagai masalah nasional, namun guru-guru Indonesia mendapat tempat di hati masyarakat Malaysia untuk mendidik anak-anaknya. Namun sekarang hal itu hanya menjadi sejarah belaka, boro-boro diminati untuk mendidik diluar negeri, mengajar siswanya di kandang sendiri saja dinilai tidak mampu. Berbagai usaha pemerintah pun dilakukan, mulai dengan memberikan sertifikasi untuk pendidik di segala tingkatan, meningkatkan kesejahteraan dan berbagai pelatihan. Namun pun demikian  guru tidak dapat disalahkan dalam perannya melahirkan generasi yang unggul, karena pendidikan bukan hanya tugas guru di sekolah, tetapi keluarga dan masyarakat serta lingkungan memiliki peran yang sangat besar dalam mencetak generasi muda yang unggul.

Bahkan peran kedua pihak ini telah diatur dalam undang-undang No.23 tahun 2006, bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tugas guru di sekolah, namun juga keluarga dan masyarakat. Untuk mengoptimalkan pendidikan anak bangsa, tentu tiga kelompok ini harus bersinergi dalam menjalankan perannya masing-masing. Selain itu, termasuk menjadi permasalahan besar dalam proses pendidikan adalah sikap para orang tua yang mengabaikan pendidikan pada usia dini, pernyataan tersebut berangkat dari asumsi bahwa pendidikan adalah tugas guru disekolah saja, sedang orang tua hanya berkewajiban membiayai dan memberi nafkah. Hal ini tentu akan berpengaruh pada pembentukan karakter, terutama kaitannya dengan motivasi untuk belajar secara mandiri.

Keluarga merupakan pondasi dasar pendidikan kepada anak. Awal pembentukan karakter anak dan menjadi penentu untuk melanjutkan perjalanan ke tahap jenjang karakter selanjutnya, hingga mencapai kematangan. Dalam teori perkembangan, kepribadian manusia mempunyai tahap-tahap pembentukan yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup. Pihak yang berpengaruh dalam lingkungan keluarga tentu saja adalah orang tua, terutama interaksi suami istri yang memberikant pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Banyaknya konflik atau dalam istilah psikologi disebut gap communication, akan berdampak sangat negatif terhadap kesehatan mental anak.

Selain itu, proses pendidikan keluarga dengan penuh kasih sayang yang disertai dengan pengenalan terhadap nilai-nilai kehidupan agama, merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani. Sebab untuk mengetahui kebenaran perlu dilandasi oleh ajaran dan nilai-nilai agama yang benar. Bila diibaratkan ajaran agama sebagai dasar pendidikan, maka posisinya ibarat sebuah rumah ia adalah pondasinya. Disinilah letak kewajiban orang tua yang dan perannya dalam membentuk karakter anak sebelum melanjutkan kepada jenjang pendidikan normal berikutnya.

Maka tidak heran jika Maslow dalam Romlah (2008) selalu mengaitkan peranan orang tua yang begitu besar terhadap perkembangan anak. Orang tua lah yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar anak, baik fisik-biologis, maupun sosio-psikologis. Seperti rasa aman, penerimaan sosial, dan harga dirinya, sehingga anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya atau perwujudan diri (self-actualization). Selanjutnya, peran lingkungan masyarakat juga tidak boleh dilupakan, mau tidak mau, dirasakan atau tidak, setiap orang harus berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Sebab manusia diciptakan sebagai mahkluk sosial. Masyarakat membawa sebuah lingkungan yang abstrak berupa situasi ekonomi, sosial, politik, adat istiadat, ideologi atau pandangan hidup, dan nilai-nilai ajaran agama yang berbeda antara satu dengan lainnya. Semua hal itu akan memberikan sentuhan pada pola perkembangan anak. Tidak diingkari bahwa anak yang tumbuh dilingkungan rimba, dimana hukum tidak pernah ditaati, maka ia akan tumbuh dengan mental preman. Sebaliknya, anak yang tumbuh di lingkungan pesantren dengan suasan sosial yang agamis akan tumbuh dan berkembang dengan kepribadian agamis. Untuk menciptakan situasi dan kondisi masyarkat ideal yang mendukung dalam pelaksanaan dan penerapan sosial yang kondusif, tentunya tidak bisa dilakukan sendiri olah individu-individu soleh saja. Butuh peranan pemerintah sebagai lembaga tertinggi dalam tatanan pemerintahan. Hingga pada akhirnya, sinergi antara individu, pemerintah dan masyarakat yang baik akan melahirkan kesolehan-kesolehan tidak hanya pada tatanan pendidikan, namun dalam tantanan kehidupan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top