Pergantian Pengurus OPTI Bagian dari Proses Kaderisasi

Trubus Iman, 08/02/2020. Sebuah kata mutiara menyebutkan, “patah tumbuh hilang berganti, sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hikang sudah berganti”. Juga sebuah pepatah “mati satu tumbuh seribu”. Kedua kata tersebut menggambarkan proses kaderisai dan model pendidikan kepemimpinan santri dan santirwati Pondok Pesantren Trubus Iman.

Organisasi Pelajar Trubus Iman (OPTI) adalah wadah dan tempat seluruh pelajar berlatih dan belajar organisasi. Mulai dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan evaluasi. Organisasi ini juga merupakan struktur tertinggi dalam organisasi santri dan santriwati. Para senior diberikan amanah oleh pimpinan pesantren untuk ikut mengatur kehidupan dan aktifitas seluruh pelajar. Tahapan ini juga menjadi kelas manajemen dengan hidden curriculum leadership di pesatren. Masing-masing bagian melaksanakan program-program tugasnya sesuai dengan AD/ART organisasi.

Pimpinan pesantren Al-Ustadz Daniar menyampaikan, bahwa pada dasarnya setiap pengurus berperan sebagai seorang seniman yang bernama Michelangelo, pemahat patung tersohor yang mendapatkan bukan hanya pesanan dari keluar ternama Madicis di kota Florance, Italy. Baginya membuat patung David permintaan keluarga tersebut adalah sebuah kehormatan. Dalam waktu 6 tahun sang seniman berhasil mencari batu pualam, memahat dan membentuk patung dalam bentuk kasar hingga sampai menjadi sebuah David dengan hasil yang memukau bagi siapa pun yang melihatnya. Mahakarya luar biasa yang saat ini di abadikan dalam musium di kota Florance.

Pada saat ditanya kepada Angelo bagaimana dia mampu menciptakan mahakarya tersebut, sang seniman menjawab dengan penuh rendah diri. Ia mengatakan, “sebenarnya saya tidak membuat patung David, sejak pertama saya menemukan batu pualam tersebut, saya telah melihat David di dalamnya. Sehingga tugas saya hanya menghilangkan apa yang bukan David dalam batu rersebut. Artinya, setiap santri dan santriwati adalah hasil ciptaan Allah yang sangat sempurna sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. Hanya saja proses yang membuat kemudian satu dengan lainnya memiliki hasil yg berbeda. Modal yang sama namun nasib akhirnya berbeda.

 

Belajar dari Angelo, untuk kembali menjadi mahakarya harus membuang seluruh aoa yang tidak perlu dalam kehidupan. Seperti malas, bodoh, berpikir negatif, pemarah, suka sakit hati dan masih banyak lagi lainnya. Karena semuanya tidak diperlukan dalam kehidupan ini. Kembalikan kepada awal penciptaan, masterpiece sebagaimana ciptaan Allah yang terbaik. Tinggal memolesnya saja dengan hal-hal positif hingga menjadi tahap manusia yang seutuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *