Oleh: Andri Rosadi

Irlandia Utara adalah tempat dimana penganut Katolik dan Protestan pernah saling bunuh untuk berebut dominasi. Saat itu, garis batas antara self dan other sangat jelas. Anekdot berikut menggambarkan suasana konflik itu.

Suatu ketika, seseorang berjalan di sudut kota Belfast. Tiba tiba, muncul seorang bersenjata dari balik gedung dan langsung menodongkan pistol di keningnya: “Kamu Katolik atau Protestan?” penodong itu menghardik. Karena identitas penodong tidak diketahui, dari pihak Katolik atau Protestan, maka salah jawaban taruhannya nyawa. Dengan gugup, akhirnya ia menjawab: “sebenarnya saya atheis”. “Iya, atheis Protestan atau Katolik?” penodong itu terus mencecar korbannya sambil menghardik. Anekdot yang berisi fanatisme dan fundamentalism di kalangan Kristen ini diceritakan dalam suatu seminar di kampus oleh Dekan Fakultas Sosial Sains tempat saya belajar yang berasal dari Irlandia.

Di belahan dunia lain, Afghanistan, pemerintah yang hampir ambruk menghadapi perlawanan faksi-faksi lokal kemudian meminta bantuan pasukan Soviet. Sebagai musuh bebuyutan, Amerika tidak tinggal diam dan langsung memberikan bantuan pada kelompok oposan. Karena faksi oposan tidak tunggal, lantas faksi mana yang harus dibantu? Pada akhirnya, putusan jatuh pada ‘faksi santri’ lulusan Deoband yang konservatif dan fanatics, dikenal kemudian dengan nama Taliban. Mengapa pilihan US jatuh pada Taliban? Alasannya sangat sederhana: the fanatics fight better. Terbukti, Taliban berperang tanpa mngenal takut dan berhasil mengusir pasukan Soviet.

Myanmar, negeri subur yang mayoritas dihuni oleh penganut Buddha menunjukkan sisi antagonistik wajah Buddha yang teduh dan damai. Dibalut oleh jubah kebesaran, para monk Buddha, dipimpin oleh Wirathu, bergerak secara massif mengusir warga Muslim dari negerinya. Dampaknya, puluhan ribu kaum Muslim Rohingya jadi pengungsi di berbagai negara; sebagian stateless. Prejudice yang dalam terhadap Islam telah memantik fanatisme dan identitas para monk itu.

Di India, Masjid Babri Ayodhya yang megah dan bersejarah berubah jadi puing-puing dalam waktu singkat. Para ekstremis Hindu mengklaim bahwa lokasi masjid itu adalah tempat kelahiran Rama yang suci. Ada lebih 1000 korban dari pihak Muslim, namun sejarah melupakannya. Membangun kuil di atas puing masjid dan darah kaum Muslim bukanlah hal asing dalam sejarah. Bagi ekstremis Hindu, klaim sejarah sudah lebih dari cukup untuk melegitimasi pembunuhan dan perampasan itu.

Di Israel, kejadiannya tak jauh beda. Klaim sejarah melegitimasi seluruh aksi biadab yang mereka lakukan. Kekerasan kaum Yahudi tak lagi membutuhkan bukti. Sangat transparan, vulgar dan biadab. Siapa yang salah? di mata Rabbi Kahane, semua kesalahan ada di pundak orang Palestina, karena “they are living in a wrong place and wrong time”. Lantas, kemana bangsa Palestina harus pindah? Kahane menjawab gamblang: “I don’t care!

Di Balkan, penduduk Bosnia yang Muslim menjadi korban genosida Serbia yang Ortodoks. Mengapa? Dimata kaum ortodoks itu, Muslim Bosnia telah kehilangan status indigenous ketika convert ke Islam. Mereka adalah migrant Turkish! Asing plus alien! Sebagai “migrant”, identitas mereka berbeda dengan warga ‘asli” Ortodoks. Puluhan ribu terbunuh, dan dunia melupakannya.

Dalam konflik dan kekerasan itu, apakah benar agama merupakan tertuduh tunggal yang mesti dipersalahkan? Agama sebenarnya bukanlah problem, walau ia bisa jadi problematic. Extremism pada hakekatnya adalah ‘struggle over identity rather than over religion’. Identitas itu ada yang bersifat nasional, seperti ultra nasionalis, dan ada juga yang trans-nasional yang banyak dirujuk ke fundamentalis Muslim. Extreme-right wing kelompok Tarrant yang memuja supremasi kulit putih dan membunuh Muslim di Cristchurch, pada praktiknya, termasuk trans-nasionalism. White supremacy disatukan oleh warna kulit dan tidak dibatasi oleh garis batas adminsitrasi negara. Tak heran, Tarrant, seorang Aussie, mendapatkan ide banal dan picik ini nun jauh di sana, di negeri nenek moyangnya: Eropa. Tak lupa, ia juga menyebut Trump sebagai “a symbol of renewed white identity”.

Ekstremisme tidak murni permasalahan ide. Ada kondisi yang menyebabkannya bisa tumbuh subur dengan akar tunggang yang menghunjam dalam. Dalam konteks ini, pendekatan Weberian murni untuk mengatasi radicalism akan sia-sia, sebab permasalahan utama bukan hanya pada tataran ide, tapi juga social. Penganut Weberian dan Durkhemian seharusnya berkolabroasi. Di sinilah letak masalahnya. Ada inkonsistensi. Jika pelaku seorang muslim, para pengamat tiba-tiba berubah jadi Weberian murni, sehingga tanpa bosan mereka berkutat dengan berbagai doktrin dan konsep dalam Islam yang menjadi pemicu radikalisme. Sebaliknya, jika pelaku non-muslim, mereka berubah jadi Durkhemian dengan mencari sebab-sebab dan justifikasi sosiologis ekstremisme itu. Inkonsistensi ini sudah sampai pada level memuakkan. Dalam konteks inilah, proyek deradikalisasi yang hanya menyasar pada agama Islam tak lebih dari proyek dungu.

Mengapa identifikasi Islam dengan fundamentalisme sangat kuat? Selain inkosistensi di atas, ada sebab lain: para intelektual Muslim ikut mengkonsumsi dengan penuh ketulusan dan gairah komoditas seksi ini. Sebagian mereka hidup dari proyek ini dan terus mereproduksinya sebagai bagian dari aktualisasi ‘keilmuan’ dan manifestasi keberpihakan mereka pada apa yang mereka sebut sebagai moderasi, toleransi dan pikiran-pikiran progresif. Persebaran atribusi fundamentalisme terhadap Islam dewasa ini adalah proyeksi dari luar dengan actor dari dalam kaum Muslim sendiri. Mengenaskan memang! Aksi Tarrant yang terang benderang tidak akan cukup untuk mengubah pandangan mereka, bahwa ekstremisme adalah permasalahan identitas sosial, bukan agama.

Dukaku yang mendalam terhadap para korban di Christchurch. Kalian telah jadi martir: mati di mata manusia, namun hidup di sisi-Nya. (Sydney, 19 Maret 2019)

—–
Penulis adalah alumnus PM Gontor 1996, saat ini kandidat doktor sosiologi dari Western Sydney University, Australia. Master sosiologi ditempuhnya di UGM & Inggris; S1 Sejarah & Peradaban dari Al-Azhar University Kairo.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top