Dahsyatnya Pahala Puasa Sunnah Syawwal

Oleh: Anang Rikza Masyhadi
Pimpinan Pondok Modern Tazakka dan Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Trubus Iman

Ramadhan telah usai, berbagai keutamaan ibadah dan amal di bulan diturunkannya Al-Quran telah pula kita lalui. Semoga Allah SWT menerima puasa kita dan seluruh ibadah serta amal shaleh pada bulan itu. Kini, saatnya kita mengejar lagi keutamaan-keutamaan ibadah dan amal shaleh lain pasca Ramadhan.

Salah satunya adalah puasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal sebagaimana dianjurkan sendiri oleh Rasullah SAW.

من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر} [رواه مسلم وغيره].

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari pada bulan Syawal, maka itu seperti puasa setahun penuh.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah)

Mayoritas ulama madzhab sepakat bahwa puasa sunnah ini sangat dianjurkan, kecuali Imam Maliki yang menghukuminya sebagai makruh. Beliau berpendapat bahwa ketergesa-gesaan melakukan puasa sunnah setelah Idul Fitri akan membuat orang susah pada saat hari-hari Idul Fitri yang penuh dengan kegembiraan. Juga agar tidak dikira masih merupakan bagian dari Ramadhan.

Para ulama madzhab juga mereka berbeda pendapat dalam hal: apakah 6 hari yang dimaksud harus dilakukan secara berturut-turut atau boleh terpisah-pisah selama dalam bulan Syawal?

Silahkan saja mengikuti yang mana, semuanya memiliki dasar argumen sendiri-sendiri yang kuat. Yang jelas: puasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan pahala puasa setahun penuh.

Namun demikian, mayoritas ulama mengatakan bahwa puasa 6 hari pada bulan Syawal secara berturut-turut (tidak terpisah-pisah) dan dilakukan langsung sehari setelah Idul Fitri, maka hal inilah yang utama untuk dikerjakan. Namun, jika hal demikian belum mampu, tidak mengapa mengerjakannya secara terpisah-pisah.

Imam Nawawi “rahimahullah” berpendapat bahwa mengapa puasa sunnah 6 hari itu seperti puasa setahun, karena setiap kebaikan itu dilipat-gandakan pahalanya sepuluh kali lipat. Maka, satu bulan Ramadhan setara dengan sepuluh bulan (karena dilipat-gandakan sepuluh), sedangkan yang 6 hari jika dilipatgandakan menjadi 60 hari atau setara dengan dua bulan. Maka, menurut Imam Nawawi, genap 12 bulan. Demikianlah pendapat Imam Nawawi dalam memahami Hadis Nabi SAW di atas.

Imam Nawawi juga mendasarkan pendapatnya itu dari firman Allah SWT:

(مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) [اﻷنعام 160]

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya” (Qs. Al-An’am [6]: 160)

Namun, perlu diingatkan di sini bahwa pahala keutamaan puasa 6 hari ini berlaku bagi orang puasa Ramadhannya genap sebulan penuh. Sehingga, bagi yang sengaja meninggalkan beberapa hari puasa Ramadhan, maka tidak mendapat keutamaan tersebut.

Bagi wanita yang haid saat Ramadhan, maka sebaiknya ia lebih mendahululan mengqadha puasa yang ditinggalkannya, dan jika telah selesai, maka ia dapat melanjutkannya dengan puasa sunnah 6 hari Syawal tersebut.

Puasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal juga berfungsi untuk menambal kekurangan-kekurangan selama puasa Ramadhan. Sebagaimana halnya dalam shalat, yaitu dengan disunnahkannya shalat nawafil (qobliyah dan ba’diyah), dan shalat-shalat sunnah lainnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Kemudian Allah berkata kepada para malaikatnya: Perhatikanlah shalat hamba-Ku itu, sudah sempurnakah atau ada yang kurang? Jika sudah sempurna, maka tulislah telah sempurna. Dan jika ada yang kurang, maka perhatikan apakah ada (shalat) sunnahnya? Jika ada, maka sempurnakanlah dengannya.” (HR. Abu Dawud)

Orang yang mau melaksanakan puasa sunnah 6 hari pada Syawal, menurut As-Syaikh Hilwani, adalah diantara tanda puasa Ramadhannya diterima oleh Allah SWT.

Beliau membuat indikator ini dengan mengatakan bahwa suatu perbuatan baik kemudian diikuti oleh perbuatan baik yang lainnya, maka hal itu dapat menandakan diterimanya perbuatan baik sebelumnya. Sebaliknya, jika suatu perbuatan baik diikuti dengan perbuatan buruk, maka hal itu dapat menandakan bahwa perbuatan baik pertamanya tidak diterima oleh Allah SWT.

Maka dari itu, mari gerakkan dan syiarkan puasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal. Lebih utama jika dilakukan mulai besok tanggal 2 Syawal secara berurutan. Selain akan mendapatkan keutamaan dan pahala puasa setahun penuh seperti yang dijanjikan Rasulullah SAW, juga untuk menambal kekurangan puasa Ramadhan kita.

Dan, yang lebih penting dari itu, kemauan untuk melanjutkan puasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal menandakan bahwa ibadah puasa Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT. Demikianlah dahsyatnya keutamaan puasa sunnah Syawal. Ayo kejar! WalLaahu a’lam bis-showab.

1 Syawal 1438 H
25 Juni 2017

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top