Trubus Iman, 22/08/18. Suasana Idul Adha di Pesantren Trubus Iman mulai tampak sesaat setelah shalat maghrib selesai ditunakan. Seluruh santri dan santriwati yang mengikuti puasa 9 Dzulhijjah berbondong-bondong menuju dapur umum diiringi dengan lantunan gema takbir yang terdengar ke seluruh pelosok kampung yang damai ini.

Kesyukuran bertambah dengan turunnya hujan yang diringi dengan matinya lampu PLN, menambah suasana hening namun penuh dengan kebahagiaan para santri yang sedang menikmati makan malam bersama-sama. Bahkan setelah shalat isya berjamaah, acara takbir keliling desa dimulai dengan berbaris tertib dan berjalan beriringan diterangi lampu obor sepanjang barisan. Demikian halnya santriwati yang berkeliling pondok dengan membawa lampu penerangan yang sama. Obor idul adha kata mereka menyebutnya. Tampak seperti suasana dahoeloe, kembali ke zaman Siti Nurbaya.

Esoknya, menjelang shalat idul adha yang dilaksanakan di masjid putri, Khadijah, seluruh keluarga besar Trubus Iman berkumpul dan ikut melaksanakan shalat bersama-sama. Imam shalat berjamaah, Al-Ustadz M. Ridho dan Khatib Al-Ustadz Amwaluddin berpesan tentang pentingnya nilai-nilai pengorbanan yang harus dipelajari dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar. Serta dapat menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini.

Pemotongan hewan Qurban dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat sekitar Pondok. Kepala Desa Pak Prasojo bersama timnya tampak berjibaku dan sibuk dengan prosesi pemotongan 4 sapi yang dilakukan hari pertama ini. Sementara 3 sapi dan 3 kambing lainnya akan di potong menyusul keesokan hari. Menyambut hari kebahagiaan ini, panitia hewan Qurban mengadakan acara nyate bareng yang dilaksanakan santri dan santriwati Trubus Iman setelah shalat isya tepat. Guru-guru pun ikut meramaikan acara nyate bareng ini.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top