Memilih Pemimpin

Menjadi pemahaman dan kesepakatan kita bersama, bahwa siapapun yang terpilih menjadi pemimpin dengan sistem demokrasi saat ini, hasilnya merupakan representasi dari warna, corak, dan tingkah laku masyarakat yang hidup didalamnya.

أعمالكم عمالكم كما تكونوا يولى عليكم

Amal perbuatan kalian, sejenis dengan pemimpin kalian. Sebagaimana karakter kalian, seperti itu pula bentuk kepemimpinan yang akan mengendalikan kalian.

James Freeman Clark seorang pakar Theology mengatakan, pilihlah pemimpin yang bersifat amanah dan memiliki jiwa sebagai negarawan, bukan hanya sekedar politisi belaka. Karena antara negarawan dan politisi sangatlah berbeda. Seorang negarawan lebih berpikir tentang bagaimana nasib generasi mendatang, sementara politisi hanya berpikir bagaimana memenangkan pemilu yang akan datang.

Ummat Islam saat ini seolah telah kehilangan orientasi dalam memilih seorang pemimpin. Padahal Islam bukan lah agama yang baru lahir di penghujung akhir zaman. Islam adalah agama besar, memiliki sejarah yang gemilang, kaya dengan pemikiran-pemikiran dan khazanah intelektual. Menjadi pioner yang mampu memasuki Bizantium dan Persia, mewarnai sepertiga dari belahan bumi, dan menjadi mercusuar dilapangan ilmu dan peradaban. Namun mengapa kemudian ummat Islam saat ini, terkesan seolah bagai buih di lautan. Banyak jumlahnya, namun mudah terombang-ambing tanpa arah dan tujuan. Mudah terkotak-kotak. Gampang di adu domba. Jawabannya hanya satu! Karena kita semakin jauh dengan ajaran-ajaran Islam. Salah satu akibatnya, Islam tidak mampu melahirkan pemimpin-pemimpin besar (great leader) dan berintegritas seperti pada masa-masa kejayaan Islam di masa silam.

Kenyataan ini juga pernah dikritisi oleh Jeremie Kubicek, pakar teori kepemimpinan dari London, Inggris, melalui bukunya yang berjudul: “Leadership is Dead”(Kepemimpinan Telah Mati). Ia nyatakan, bahwa pemimpin sekarang lebih banyak menuntut (getting), bukan memberi (giving); lebih banyak menikmati, ketimbang melayani; dan lebih banyak mengumbar janji, dari pada memberi bukti. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan makna dan hakikat kepemimpinan itu sendiri, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh al-Khathib al-Baghdadiy dalam kitabnya “Tarikhu Baghdad” diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW pernah bersabda:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

“Seorang pemimpin adalah “pelayan” bagi masyarakat atau orang yang dipimpinnya.”

Secara lebih jauh, dalam kajian al-Fiqh as-Siyasi (Fiqih Politik Islam), aspek moral yang seharusnya menjadi dasar sekaligus tujuan dari setiap kebijakan dan tindakan seorang pemimpin adalah “kemaslahatan masyarakat”. Sebagaimana dinyatakan dalam salah satu kaidah fiqih:

تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“bahwa tindakan atau kebijakan pemimpin atas rakyatnya, terikat oleh kepentingan dan kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya”.

Tegasnya, setiap prilaku dan kebijakan pemimpin wajib diorientasikan untuk kemashlahatan bangsa dan masyarakat, bukan kemashlahatan diri dan kelompoknya semata. Senada dengan makna kaidah di atas, Imam as-Syafi’i rahimahullahu ta’ala juga menyatakan :

‏مَنْـزِلَةُ الإِمَامِ مِنَ الرَّعِيَّةِ مَنْـزِلَةُ الْوَلِيِّ مِنَ الْيَتِيْمِ.

“Posisi (tanggungjawab) seorang pemimpin atas rakyatnya adalah sebagaimana posisi (tanggungjawab) orang yang diberi amanat memelihara anak-anak yatim”.

 

Kaidah di atas sesungguhnya diturunkan dari moral kepemimpinan Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam al-Quran. Firman Allah SWT dalam QS. at-Taubah [9]: 128 menyatakan :

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri; begitu berat dirasakan olehnya penderitaan kalian; ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian; dan ia amat mengasihi dan menyayangi orang-orang mukmin.”

Berdasarkan ayat di atas, ada 3 sikap moral kepemimpinan Rasulullah SAW yang perlu dicermati dan diteladani oleh setiap pemimpin. Pertama, ‘azizun alaihi ma ‘anittum (artinya, amat berat dirasakan oleh Nabi apa yang menjadi beban penderitaan umat yang dipimpinnya). Dalam istilah modern, sikap ini disebut sense of crisis, yaitu rasa peka atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung. Secara kejiwaan, empati berarti kemampuan memahami dan merasakan kesulitan orang lain. Rasa empati pada gilirannya akan mendorong lahirnya sikap simpati, yaitu ketulusan memberi bantuan, baik moral maupun material, untuk meringankan penderitaan rakyatnya yang mengalami kesulitan.

Kedua, harishun `alaikum (artinya, Nabi sangat mendambakan agar umat yang dipimpinnya aman dan sentosa). Dalam istilah modern, sikap ini disebut sense of achievement, yaitu semangat dan perjuangan yang sungguh-sungguh, agar seluruh masyarakat yang dipimpinannya dapat meraih kemajuan dan kemakmuran.

Ketiga, raufun rahim (artinya, sikap mengasihi dan menyayangi). Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demikian pula Rasulullah SAW, juga merupakan manusia yang sangat pengasih dan penyayang. Maka sudah seharusnya bagi setiap mukmin, terutama mereka yang dipercaya menjadi pemimpin, meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul-Nya itu dengan cara mencintai dan mengasihi orang lain, khususnya masyarakat yang dipimpinnya. Karena kasih sayang (rahmat) adalah pangkal dari segala kebaikan. Tanpa kasih sayang, sangat sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik. Dalam hal ini, Imam at-Turmudzi, seorang ulama besar ahli hadits di dalam kitab Sunan at-Turmudzi, ia meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah ibnu Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

… إِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَآءِ

Kasih sayangilah orang-orang yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu”.

 

Seorang mujaddid (ulama pembaharu) abad modern, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (penulis kitab tafsiral-Manar, murid dari Syaikh Muhammad Abduh, sekaligus pengembang pemikiran Syaikh Jamaluddin al-Afghani memberikan sebuah pertanyaan yang sangat terkenal dan monumental: “limaadza ta-akhara al-muslimuun wa taqaddama ghairuhum” (mengapa kaum muslim begitu terbelakang, sedangkan umat lain sedemikian maju?), dalam salah satu jawabannya ia menegaskan, bahwa keterbelakangan ummat Islam disebabkan pemimpin-pemimpin Islam tidak memiliki ketiga sikap moral si atas. Karena tanpa ketiga sikap moral tersebut, seorang pemimpin bisa dipastikan tidak akan bekerja untuk kepentingan rakyatnya, melainkan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, keluarga, dan kelompoknya semata. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita para pemimpin yang amanah, yang betul-betul memahami hakikat tugas dan kewajibannnya sebagai khaadimul ummah (pelayan masyarakat), dan mereka tentunya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt kelak di akhirat. Dan yang lebih utama! Pada hari perhitungan, setiap masing-masing kita juga akan diminta pertanggungjawabannya, mengapa, bagaimana, dan atas dasar apa kita memberikan keputusan dukungan suara dalam memilih pemimpin-pemimpin kita. Ya Allah, tunjukkan lah kepada kami pemimpin yang baik-baik, dan perbaikilah pemimpin-pemimpin kami. Amin ya Rabbal alamin.

إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالْجِبَالِ, فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإِنْسَانُ, إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً.

 “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, semuanya enggan untuk memikul amanat itu lantaran mereka khawatir akan berbuat khianat, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat dzalim lagi bodoh”. (QS. al-Ahzab [33] : 72).

 

Imam Ibnul Qoyim pernah menjelaskan tentang pentingnya memperbaiki diri, jika kita berharap memiliki pemimpin yang baik. Beliau mengatakan :

وَتَأَمَّل حِكْمَتَه تَعَالَى في اَنْ جَعَلَ مُلُوكَ الْعِبَادِ وَأُمَرَاءَهُمْ وَوُلَاتَهُمْ مِنْ جِنْسِ اَعْمَالِهِمْ بَلْ كَأَنَّ أَعْمَالَهُمْ ظُهِرَتْ في صُوَرِ وُلَاتِهِمْ وَمُلُوْكِهِمْ فَإِنِ اسْتَقَامُوا اِسْتَقَامَتْ مُلُوْكُهُمْ وَإِنِ عَدَلُوا عَدَلَتْ عَلَيْهِمْ وَإِنْ جَارُوْا جَارَتْ مُلُوْكُهُمْ

Renungkanlah hikmah Allah. Dia jadikan pemimpin bagi para hamba-Nya, sejenis dengan amal dan perilaku hamba-Nya. Bahkan seolah-olah amal mereka berwujud seperti pemimpin mereka. Ketika mereka istiqamah dalam kebaikan, pemimpin mereka akan istiqamah. Sebaliknya, ketika mereka menyimpang, maka pemimpin mereka-pun menyimpang. Ketika mereka berbuat zalim, pemimpin mereka juga akan bertindak zalim…(Miftah Dar as-Sa’adah, hlm. 253).

Saya mengingatkan kepada diri pribadi dan para jamaah, agar tidak pesimis terhadap kondisi bangsa kita. Mari kita letakkan harapan besar kita dalam doa yang disertai dengan usaha menjadi pribadi yang baik dan benar. Marilah kita memohon kepada Allah untuk pemimpin yang baik, adil, amanah, bijak, dan tentu saja membela kepentingan kaum muslimin. Dengan tetap berpegang teguh kepada teori Allah, bahwa dengan menjadi masyarakat yang baik, niscaya Allah anugerahkan kepada kita, pemimpin yang baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top