Trubus Iman, 29 Juli 2019. Rangkaian acara Pekan Perkenalan Khutbatul Arsyi di Pondok Pesantren Trubus Iman memasuki Babak Kuliah Umum. Setelah pelaksanaan Apel Tahunan di Kampus Putra, 28/07/2019 lalu, yang dihadiri oleh seluruh keluarga besar Trubus Iman dan tamu-tamu undangan dari pemerintahan, tokoh masyarakat, dan alim ulama se Kabupaten Paser.

Hari ini, kuliah umum yang direncanakan dalam tiga babak, dilaksanakan di dua tempat berbeda, putra dan putri. Masjid Muhanmad menjadi tempat ikhwan dan Masjid Khadijah menjadi tempat kuliah umum putri. Mengawali Kuliah Umum Babak I, Pewakif dan pendiri pesantren, H. Tony Budi Hartono menjelaskan tentang konsep, prinsip, dan sistem pendidikan satu pipa yang menjadi ciri khas Trubus Iman.

Selain itu, berbagai pengalaman beliau dalam menyekolah putra dan putrinya di pesantren juga disampaikan untuk memotivasi para santriwati, khususnya santriwati baru. Adapun di tempat berbeda, Al-Ustadz Reza Jehan Lesmana menyampaikan pandangan tentang kepondokpesantrenan, dimulai dari nilai-nilai, sistem, filosofi dan bagaimana hidup dan menuntut ilmu di pesantren.

Kuliah Umum kemudian diakhiri siang hari, oleh Al-Ustadz Daniar di tempat Santri dan Al-Ustadz Reza di tempat santriwati. Akhir dari kuliah umum ini dijelaskan landasan operasional pesantren yang didasarkan pada Panca Jangka yang lima; pendidikan dan pengajaran, kaderisasi, pergedungan, khizanatullah (sumber pendanaan) dan kesejahteraan keluarga.

Pimpinan menjelaskan, bahwa konsep “keluarga pondok” di Trubus Iman bukan keluarga atau keturunan sedarah dari para pendiri dan pimpinannya, tapi “keluarga pesantren” adalah seluruh orang yang terlibat dalam perjuangan di Pondok Pesantren Trubus Iman adalah bagian “keluarga pondok”. Meskipun ia memiliki hubungan darah dengan para pendirinya, pimpinannya, tetapi tidak mau berjuang dan memperjuangkan pondok, berarti dia tidak termasuk dalam “keluarga pondok”.

Nilai, sistem, dan landasan filsafat hidup di pesantren ini sudah menjadi kewajiban dan pakem di Trubus Iman untuk diketahui, difahami, dan diamalkan oleh seluruh keluarga pondok. Tujuannya, agar setiap masing-masing kembali mengingat dan meluruskan niat kembali ke “khittoh” dan garis perjuangan yang telah ditentukan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top